Merayakan Kemerdekaan di Puncak Batur: Pendakian Perdana di Pulau Dewata

Kerinduan untuk kembali menapakkan kaki di tanah tertinggi semakin membuncah ketika saya terpaksa terkurung di dalam kota akibat pandemi Covid-19 yang mengguncang seluruh sendi kehidupan manusia. Ya, sebuah virus yang memaksa semua aktivitas manusia dilakukan dari rumah, berkumpul hanya bersama orang-orang terdekat. Tidak terkecuali saya—kegiatan perkuliahan pun terpaksa beralih ke daring tanpa tatap muka di kelas. Setelah jadwal kuliah selesai dan libur semester tiba, kerinduan terhadap gunung harus saya tahan lebih lama lagi setelah lima bulan tidak mengunjunginya.

Hingga akhirnya, pertengahan Agustus 2020, tepatnya tanggal 13, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi pulau di sebelah Jawa, yaitu Pulau Dewata, Bali. Bali bukan hanya soal pantai—pulau ini juga menyimpan gunung-gunung indah yang sayang untuk dilewatkan.

Selain itu, saya ingin merayakan Hari Ulang Tahun Indonesia pada 17 Agustus dengan cara mendaki gunung—sebuah pengalaman pertama mendaki di Hari Kemerdekaan. Namun, kegiatan pendakian tahun 2020 ini terasa berbeda. Banyak gunung yang masih ditutup akibat pandemi. Beberapa gunung yang sudah dibuka menerapkan protokol kesehatan ketat, seperti memakai masker, selalu mencuci tangan dengan air atau hand sanitizer, serta menjaga jarak dari orang-orang sekitar demi mencegah penyebaran virus. Setelah melalui berbagai pertimbangan, saya memutuskan untuk pergi ke Pulau Bali dan mendaki Gunung Batur serta Gunung Abang di Kecamatan Kintamani.

Gunung Batur 1.717 mdpl

Mengenal Gunung Batur

Gunung Batur adalah gunung berapi aktif yang terletak di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Indonesia. Berlokasi di sebelah barat laut Gunung Agung, gunung ini memiliki kaldera berukuran 13,8 x 10 km dan merupakan salah satu kaldera terbesar di dunia (Van Bemmelen, 1949). Di dalam kaldera terdapat danau berbentuk bulan sabit yang menempati bagian tenggara, dikenal sebagai Danau Batur. Dengan ketinggian puncak 1.717 mdpl, banyak wisatawan yang datang ke sini untuk menikmati keindahan alam Kintamani dari ketinggian.

Danau Batur dan puncak Gunung Batur terlihat dari kejauhan

Perjalanan Panjang Menuju Bali

Perjalanan ini dimulai bersama teman dari kampus bernama Damba, naik kereta dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta, menuju Surabaya. Namun, Damba hanya menemani sampai turun lebih dulu di Lamongan karena tidak ikut mendaki. Saya melanjutkan perjalanan seorang diri menuju Stasiun Pasar Turi, Surabaya. Sesampainya di sana, saya dijemput oleh kakak tingkat dari kampus, Tirus, untuk menginap dan beristirahat sehari di rumahnya karena kereta menuju Banyuwangi baru tersedia lusa.

Saya melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi menggunakan kereta dari Stasiun Gubeng menjelang subuh setelah diantar Tirus ke stasiun. Siang harinya saya tiba di Stasiun Ketapang, Banyuwangi, dan langsung membeli tiket penyeberangan kapal dari Pelabuhan Ketapang menuju Pelabuhan Gilimanuk. Setelah lebih dari satu jam menyeberangi Selat Bali, saya tiba dan menginjakkan kaki di Pulau Bali.

Sesegera mungkin saya mencari bus menuju Terminal Ubung, untuk kemudian berganti kendaraan yang bisa mengantar ke tempat tinggal teman di kawasan Bangli. Bus membawa saya selama 3 jam 30 menit hingga tiba di Terminal Ubung. Malam itu saya kesulitan menemukan angkutan umum—banyak ojek yang menawarkan tumpangan dengan harga yang cukup mahal. Teman saya menyarankan agar saya pergi ke Terminal Batubulan dan menunggunya di sana. Saya naik ojek menuju Terminal Batubulan dan beristirahat sejenak di pos sambil menunggu. Setengah jam berlalu, akhirnya Bakta menjemput dan membawa ke rumahnya—tempat di mana selama 4 hari di Bali saya akan menginap. Karena tubuh masih lelah akibat perjalanan panjang, setelah berbincang sebentar dengan Bakta, saya langsung tidur dan beristirahat hingga keesokan harinya

Menjelajahi Bali Sebelum Mendaki

Pagi harinya, sehari sebelum Hari Kemerdekaan Indonesia, saya diajak Bakta berkeliling ke beberapa destinasi wisata di Bali. Memang, beberapa objek wisata masih ditutup untuk kunjungan umum akibat pandemi. Kami hanya mengunjungi beberapa pantai dan menikmati suasana kota Bali. Malamnya, kami menyiapkan perlengkapan untuk pendakian esok hari. Sesekali Bakta bertanya tentang pengalaman mendaki gunung—kenapa saya menyukainya, dan berbagai hal lainnya. Wajar saja, ia belum pernah mendaki gunung sebelumnya dan esok hari akan menjadi pendakian pertamanya. Setelah semuanya siap, kami segera tidur karena dini hari harus bergegas menuju Gunung Batur untuk menyaksikan matahari terbit, tepat di hari peringatan Kemerdekaan Indonesia ke-75.

Mendaki Gunung Batur di Hari Kemerdekaan

Tepat pukul 02.30 dini hari, kami terbangun dan segera menuju jalur pendakian Gunung Batur. Udara dingin menemani kami yang berboncengan motor dengan cepat menuju Pura Pasar Agung sebagai titik awal pendakian. Hanya 45 menit dari rumah Bakta, kami telah tiba di kaki Gunung Batur. Sesampainya di pintu masuk gerbang pendakian, kami dan beberapa pendaki lain ditahan oleh petugas penjaga. Ternyata pendakian sempat ditutup sementara karena terlalu ramainya jumlah pendaki yang ingin naik Gunung Batur. "Aduh, sial," batin saya berucap.

Namun, tak lama kemudian, seorang warga setempat menawarkan untuk mengantarkan kami ke area parkir kendaraan di atas, dekat Pura Jati Luhur. Tanpa pikir panjang, kami langsung setuju. Tiba di area parkir pukul 04.15, kami segera bergegas naik menuju puncak Gunung Batur, ditemani cahaya senter dan jutaan bintang yang bertaburan di langit.

Pura Pasar Agung yang merupakan titik awal pendakian

Jalur pendakian Gunung Batur boleh dibilang cukup menguras tenaga. Sejak awal, para pendaki langsung dihadapkan pada tanjakan terjal yang didominasi bebatuan. Kami beberapa kali berhenti untuk minum. Memang, tidak ada sumber mata air di Gunung Batur, sehingga pendaki disarankan membawa cukup air minum. Gunung Batur bisa dikatakan cocok untuk pendaki pemula atau yang baru pertama kali mendaki karena waktu tempuhnya relatif singkat—hanya 2–3 jam untuk mencapai puncak. Meski begitu, persiapan tetap harus dilakukan sebaik mungkin, mulai dari perlengkapan hingga kesiapan fisik, demi keselamatan selama pendakian.

Matahari terbit di hari kemerdekaan Indonesia

Garis kuning yang samar mulai mengintip di ufuk timur. Danau Batur dan Gunung Abang terlihat jelas sejauh mata memandang. Kemegahan Gunung Rinjani di seberang timur pun perlahan mulai terlihat. Bakta tampak sangat bahagia menyaksikan pemandangan seperti ini untuk pertama kalinya di gunung—dan sejak saat itu, ia mengaku ketagihan mendaki. Mungkin inilah kali pertama saya mendaki gunung dengan jumlah pendaki yang begitu banyak dan ramai. Beberapa menit sebelum tiba di puncak, kami memutuskan untuk duduk sejenak, menyeduh kopi, sambil menyaksikan matahari 17 Agustus—hari peringatan Kemerdekaan Indonesia ke-75. Ah, sungguh momen yang begitu indah dan berkesan. Beberapa pendaki terlihat membawa bendera merah putih sambil menyanyikan lagu "Indonesia Raya", diikuti oleh pendaki-pendaki lain yang ikut menyuarakan bait demi bait lagu kebangsaan itu.

Puncak Gunung Batur yang ramai oleh pendaki

Setelah menikmati kopi dan matahari semakin bersinar terang, kami berjalan sedikit lagi menuju puncak. Di puncak Gunung Batur terdapat sebuah pura tempat orang-orang bersembahyang. Kami mengabadikan berbagai foto dengan latar pemandangan yang dipenuhi pendaki dari berbagai penjuru. Monyet berekor panjang juga kerap terlihat bergantungan di pepohonan sekitar puncak.

Candi yang terdapat di Gunung Batur

Menuju Gunung Abang

Saya dan Bakta segera turun dari Gunung Batur karena setelah turun saya berencana langsung mendaki Gunung Abang. Sayangnya, Bakta tidak bisa ikut—temannya tiba-tiba mengundangnya ke sebuah acara lewat telepon. Tidak masalah, saya akan mendaki sendirian. Kami turun dengan hati-hati karena bebatuan yang kami pijak kerap tergelincir. Sesampainya di area parkir kendaraan, kami duduk beristirahat sejenak sambil meregangkan kaki. Tidak lama kemudian, Bakta langsung mengantar saya ke kawasan pendakian Gunung Abang.

Renungan di Hari Kemerdekaan

Sudah 75 tahun negeri ini merdeka dari penjajahan. Apakah negeri ini sudah benar-benar merdeka? Bagi saya, ya. Mengatakan bahwa negeri ini belum merdeka sama saja dengan meremehkan perjuangan para pahlawan terdahulu. Namun, pertanyaan yang lebih dalam adalah: sudahkah kita mengisi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya?

Sudah menjadi kewajiban kita sebagai generasi penerus bangsa untuk terus memperbaiki dan memajukan negeri tercinta ini. Bagi saya, dengan mendaki gunung, ada pesan tersendiri yang selalu terngiang—bahwa saya semakin mencintai negeri ini dan tidak ingin alam yang indah ini dirusak oleh segelintir orang yang tidak bertanggung jawab. Semoga kita selalu merdeka. Merdeka bukan berarti bebas berbuat semau hati, melainkan bebas dari segala hal yang buruk. Bukan kebebasan untuk bertindak sewenang-wenang, tetapi kebebasan dari segala bentuk kesewenang-wenangan.


Gunung Batur

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seba Baduy

Dewi Anjani' Throne (Gunung Rinjani National Park)

Gunung Maras: Puncak Tertinggi Bangka-Belitung