Siapa yang tidak kenal Gunung Slamet? Apalagi para pendaki yang gemar berpetualang di alam bebas. Menurut kepercayaan warga setempat, apabila Gunung Slamet mengalami erupsi besar, Pulau Jawa akan terbelah menjadi dua bagian. Itulah mengapa gunung ini diberi nama "Slamet", yang berasal dari bahasa Jawa dan berarti selamat. Nama ini diberikan karena gunung ini dipercaya tidak pernah mengalami erupsi besar dan selalu memberikan rasa aman bagi masyarakat sekitarnya.
Gunung Slamet merupakan gunung berapi berbentuk kerucut di Pulau Jawa, Indonesia. Gunung ini terletak di antara lima kabupaten, yaitu Kabupaten Brebes, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah. Gunung Slamet adalah gunung tertinggi di Jawa Tengah dan tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru di Jawa Timur.
Puncak Gunung Slamet, 3428 mdpl
Berangkat dari Purwokerto
Perjalanan ini dimulai dari Purwokerto menggunakan motor yang saya pinjam dari teman. Saya berangkat bersama Wahyu, menuju basecamp Bambangan, Purbalingga, pada pagi hari. Setelah menempuh perjalanan selama 90 menit, kami tiba di basecamp Bambangan dan langsung mengurus izin pendakian untuk mendapatkan tiket masuk. Kami juga mendapatkan bibit pohon secara gratis untuk ditanam di tempat yang sudah disediakan selama pendakian berlangsung. Setelah semuanya beres, kami langsung melangkah menanjak. Ayo berangkat!
Gerbang pendakian Jalur Bambangan
Menyusuri Jalur Bambangan
Gerbang pendakian Gunung Slamet langsung menyambut kami di awal perjalanan. Bagian awal pendakian melewati kebun-kebun milik warga setempat sejauh mata memandang. Kami memasuki hutan pinus setelah terlebih dahulu menanam bibit pohon yang kami bawa dari basecamp Bambangan di tempat yang telah disediakan. Sungguh indah pemandangannya—puncak Gunung Slamet sudah terlihat dengan gagah dari awal pendakian, meski masih dari kejauhan.
Puncak Gunung Slamet yang terlihat dari awal pendakian
Hingga Pos 3, jalur pendakian masih cukup bersahabat, meskipun beberapa kali kami harus melewati tanjakan yang cukup menguras tenaga. Di Pos 3, kami memutuskan untuk beristirahat cukup lama karena hari sudah menjelang siang. Kami berencana mendirikan tenda di Pos 5 karena areanya cukup luas untuk berkemah dan jaraknya tidak terlalu jauh dari puncak. Perlu dicatat, di jalur Bambangan ini tidak terdapat sumber mata air sama sekali, sehingga kami harus benar-benar berhemat dengan persediaan air yang kami bawa.
Pos Samarantu yang Misterius
Kami akhirnya tiba di Pos 4 (Samarantu), yang konon sudah sangat terkenal di kalangan pendaki karena kisah-kisah mistisnya. Nama pos Samarantu diambil dari gabungan dua kata, yaitu "samar" dan "hantu". Pos Samarantu ini ditandai dengan dua pohon besar yang berdiri sejajar satu sama lain, menyerupai sebuah pintu gerbang. Pintu ini dipercaya sebagai pintu masuk ke alam gaib. Tidak sedikit pendaki yang mengaku pernah melihat penampakan makhluk tak kasat mata di tempat ini secara samar-samar.
Memang, saat kami melewati pos ini, bulu kuduk sedikit merinding karena suasananya terasa berbeda dari sebelumnya. Saya tidak tahu kebenarannya. Yang jelas, Saya percaya bahwa di mana pun kita berada, pasti selalu ada makhluk lain selain manusia. Kita harus saling menghormati antar sesama makhluk ciptaan Tuhan, di mana pun kita berada.
Pos 4 Samarantu
Bermalam di Pos 5
Setelah melewati Pos Samarantu, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 5. Setelah berjalan selama 60 menit, kami akhirnya tiba di sana. Sebuah tenda sudah berdiri di sana—milik pendaki yang sebelumnya bermalam di Pos 5 dan kini bergantian untuk turun. Kami segera mengolah logistik makanan yang kami bawa menjadi hidangan yang mengenyangkan. Setelah menyeduh kopi dan menikmatinya, entah mengapa tubuh langsung ingin segera tidur. Setelah matahari terbenam, kami memutuskan untuk tidur karena badan benar-benar sudah kelelahan. Jangan lupa, keesokan harinya sebelum matahari terbit, kami harus segera melanjutkan perjalanan menuju puncak.
Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing yang terlihat di kejauhan saat matahari terbit
Summit Attack: Menuju Puncak Tertinggi Jawa Tengah
Kami terbangun dari mimpi setelah alarm ponsel membangunkan kami pukul setengah lima pagi. Semua perlengkapan yang akan dibawa ke puncak sudah siap di dalam tas kecil yang kami bawa. Kami menyusuri jalur pendakian yang terjal ditemani cahaya headlamp yang terpasang di kepala.
Batas vegetasi adalah pos terakhir sebelum mencapai puncak Gunung Slamet. Matahari mengintip dari balik timur, menyapa kami dengan indah. Kami tiba di puncak Gunung Slamet, titik tertinggi di Jawa Tengah dengan ketinggian 3.426 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kawah yang sangat luas dan menganga mengeluarkan asap tepat di hadapan mata kami—Gunung Slamet memang masih berstatus aktif. Kami tidak berlama-lama di puncak, hanya mengambil beberapa foto sebagai kenangan. Setelah menghangatkan tubuh dengan kopi, kami segera turun kembali menuju tenda di Pos 5.
Pada hari yang sama, kami kembali dari basecamp Bambangan menuju Purwokerto untuk beristirahat. Sungguh, Slamet benar-benar menguras tenaga habis-habisan.
Saya dan Wahyu di puncak Gunung Slamet
Komentar
Posting Komentar