Saya tidak pernah membayangkan dalam hidup ini akan melakukan kegiatan mendaki gunung. Semua ini dimulai ketika saya bergabung dengan organisasi pecinta alam di SMA Negeri 6 Bogor bernama "Remaja Pecinta Alam" (REMAPA), saat masih kelas 1 SMA. Dalam organisasi ini, ada program pendakian wajib bagi anggota baru setelah melalui berbagai kegiatan pendidikan dasar. Pendakian wajib ini dilaksanakan setiap tahun di Gunung Gede, Jawa Barat, gunung yang dipilih karena lokasinya cukup dekat dengan tempat tinggal kami dan sekolah di Kota Bogor.
Pendakian ke Gunung Gede ini adalah pendakian pertama saya ke sebuah gunung. Meski sebelumnya saya sudah menyukai beberapa kegiatan luar ruangan (outdoor) seperti berkemah dan menyusuri hutan, mendaki gunung adalah hal yang belum pernah saya coba dan rasanya menarik untuk dijalani setidaknya sekali dalam seumur hidup!
Memilih Jalur Pendakian
Gunung Gede yang termasuk di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango sangat cocok bagi pendaki pemula yang baru mencoba kegiatan mendaki. Ada tiga jalur pendakian menuju Gunung Gede-Pangrango, yaitu Jalur Cibodas, Jalur Gunung Putri, dan Jalur Selabintana. Kami memilih jalur Gunung Putri karena waktu tempuhnya lebih singkat, meski jalurnya banyak menanjak. Sebelum mendaki, kami wajib mengurus izin masuk kawasan konservasi yang bisa didaftarkan melalui petugas Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (saat ini pendaftaran sudah bisa dilakukan secara online melalui situs resminya).
Awalnya saya bingung dan sangat takut untuk mendaki gunung karena belum pernah melakukannya. Rasa khawatir terus menghantui pikiran—takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Karena itu, jauh-jauh hari kami sudah mempersiapkan segalanya, mulai dari latihan fisik hingga menyiapkan logistik pendakian bersama-sama. Saya sendiri tidak memiliki peralatan mendaki, sehingga harus meminjam tas carrier, sepatu, matras, dan perlengkapan lainnya dari teman-teman yang sudah pernah mendaki (wajar kan, kalau pendaki pemula bermodal semangat saja).
Hari Pertama: Menembus Hujan dan Gelap
Tepat di bulan April 2016, kami berangkat dari Kota Bogor menuju basecamp Gunung Putri menggunakan angkutan umum yang kami sewa. Rombongan yang berjumlah 12 orang, didampingi beberapa senior REMAPA, mulai melangkah mendaki pada sore hari sebelum matahari terbenam. Diiringi gerimis tipis, kami segera mengeluarkan ponco dan menyalakan senter kepala (headlamp) untuk menerangi jalan. Setelah satu jam perjalanan, kami memutuskan mendirikan tenda sebelum mencapai Pintu Rimba karena hari sudah gelap dan berbahaya jika melanjutkan perjalanan malam itu. Setelah tenda berdiri dan makan malam selesai, kami segera beristirahat karena esok hari perjalanan panjang masih menanti.
Menyusuri Pos demi Pos
Matahari pagi membangunkan kami dari dalam tenda. Meski masih lelah, kami segera bergegas melanjutkan pendakian. Pintu Rimba adalah gerbang masuk ke dalam hutan setelah melewati ladang penduduk. Kami melewati Pos 1 dengan perasaan senang dan gembira, disambut pepohonan rimbun yang menemani sepanjang jalur pendakian.
Kami melewati pos demi pos dengan penuh semangat, meski tubuh terasa sangat lelah dan udara dingin terus menusuk kulit yang belum terbiasa mendaki. "Semangat!"—kata ini terus kami gaungkan satu sama lain setiap kali rasa ingin menyerah muncul saat menghadapi jalur menanjak dan menurun tanpa henti. Gula merah jadi camilan andalan kami, yang menurut teman-teman bisa sedikit menghilangkan rasa lelah, dan ternyata benar, kami selalu lebih bersemangat setiap kali melangkah menanjak setelah mengunyahnya.
Alun-Alun Surya Kencana
Sambil terus berdoa, kami melangkah selangkah demi selangkah. Akhirnya, setelah berjalan sejak pagi dengan estimasi waktu tempuh sekitar 7 jam, kami tiba di sabana luas bernama Alun-Alun Surya Kencana menjelang siang. Kami mengeluarkan semangka yang kami bawa dan memotongnya rata untuk dibagikan. Setelah cukup beristirahat dan menikmati pemandangan, kami segera melanjutkan perjalanan mencari tempat yang pas untuk mendirikan tenda. Ditemani bunga abadi Edelweiss di kanan dan kiri sepanjang jalan, semangat mendaki kami semakin bertambah.
Beristirahat di Alun-alun Surya Kencana
Setelah tenda berdiri di tanah lapang yang kami temukan, seperti biasa kami membagi tugas untuk memasak logistik makanan yang dibawa. Begitu makanan siap, perut yang sudah keroncongan langsung melahapnya tanpa ampun.
Malam itu, diterangi jutaan bintang di langit Alun-Alun Surya Kencana, kami saling bercerita tentang pendakian ini. Rasanya masih sulit dipercaya, bocah seperti saya bisa mendaki gunung. Kami pun memutuskan tidur lebih awal karena tubuh sudah sangat lelah. Besok pagi kami harus mendaki ke puncak untuk acara pelantikan. Tidak sabar rasanya berdiri di puncak Gunung Gede, 2.958 meter di atas permukaan laut - kami datang!
Summit Attack: Menuju Puncak
"Bangun... summit attack!" Saya dibangunkan dari tidur lelap. Setelah menyiapkan barang-barang untuk summit attack (istilah untuk pendakian menuju puncak), kami berjalan menuju puncak Gunung Gede pukul 4 pagi, dipenuhi semangat dan harapan. Diterangi cahaya headlamp dan bintang-bintang di langit, kami berjalan perlahan menyusuri jalur. Beberapa kali kami duduk sejenak untuk minum dan mengambil napas. Perlahan matahari muncul dari persembunyiannya, dan kami pun tiba di puncak Gunung Gede.
Semua perasaan campur aduk bersama kebahagiaan—anak ingusan seperti saya bisa mendaki sampai puncak gunung. Kami saling memberi selamat dan berpelukan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan.
Menggapai puncak Gunung Gede pertama kali
Kembali ke Basecamp Awal
Setelah semua menjalani momen pelantikan di puncak, kami segera bergegas turun kembali ke tempat tenda berdiri. Kami memasak untuk mengisi tenaga yang akan digunakan kembali ke basecamp. Setelah semua logistik pendakian kembali dimasukkan ke dalam tas carrier, kami pun mulai berjalan turun.
Sore harinya, kami tiba kembali di basecamp jalur Gunung Putri dengan tubuh yang terasa pegal di sekujur badan. Kami segera naik ke angkutan umum yang sudah kami sewa untuk pulang ke kota tercinta, Kota Hujan Bogor.
Menyambut Pendakian Selanjutnya
Pendakian pertama saya ini ke Gunung Gede adalah pengalaman luar biasa dalam hidup. Pendakian ini juga jadi titik awal untuk mendaki gunung-gunung berikutnya. Berbagai perasaan yang muncul setelah mendaki ternyata berguna untuk menentukan arah jalan hidup. Saya yakin, "hobi baru" ini adalah pilihan yang tepat sebagai wujud rasa syukur karena terlahir di negeri yang begitu indah ini.
REMAPA angkatan 29. Atas kiri-kanan: Empat, Maul, Wahyau, Raka, Aura, Isal, Nabila, Fatur, Duni, Ahong
Bawah kiri-kanan: Zufar, Ical
Komentar
Posting Komentar