Adanya waktu istirahat di tengah bulan, di antara rutinitas kuliah yang padat, membuat saya ingin mencari suasana yang lebih tenang. Waktu libur selama empat hari saya manfaatkan untuk mendaki gunung. Akhirnya saya memutuskan untuk mendaki gunung di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, yaitu Gunung Lawu.
Untuk informasi awal, Gunung Lawu terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini berada di antara tiga wilayah, yaitu Kabupaten Karanganyar (Jawa Tengah), serta Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Magetan (Jawa Timur). Gunung Lawu memiliki tiga puncak: Puncak Hargo Dalem, Hargo Dumiling, dan puncak tertinggi, Hargo Dumilah dengan ketinggian 3.265 mdpl (meter di atas permukaan laut).
Tugu penanda di puncak Gunung Lawu
Berangkat Tanpa Rencana Matang
Saya mengajak seorang semasa kuliah, Sonny, untuk berangkat menuju Kota Solo dari Terminal Baranangsiang, Bogor, pada pagi hari. Awalnya saya ingin mendaki sendirian, tapi akhirnya saya mengajaknya begitu saja sehari sebelum berangkat, tanpa rencana yang jelas. Kami mendapatkan tiket bus seharga Rp250.000 dari Terminal Kampung Rambutan menuju Terminal Tirtonadi. Bus berangkat siang hari menuju Kota Solo, dan kami tiba menjelang subuh. Perjalanan kami lanjutkan menggunakan bus kecil menuju Cemorosewu, Sarangan, Jawa Timur. Setibanya di basecamp Cemorosewu, kami langsung membeli tiket pendakian Gunung Lawu seharga Rp5.000. Setelah membeli sarapan di warung makan setempat, kami segera memulai pendakian.
Menyusuri Jalur Cemorosewu
Pendakian dimulai pukul 8 pagi dari gerbang Cemorosewu. Jalur Cemorosewu memang dikenal sebagai jalur termudah dibandingkan jalur lainnya, seperti Cemorokandang dan Candi Cetho—meski jalurnya lebih banyak menanjak. Namun, jika memilih jalur ini, kita akan lebih cepat mencapai puncak dibandingkan jalur lain. Jalur pendakian via Cemorosewu cukup tertata rapi, dengan jalan berbatu yang sudah disusun sejak awal pendakian hingga pos-pos selanjutnya.
Gerbang pintu masuk pendakian di jalur Cemorosewu
Setelah berjalan menanjak selama empat jam, kami tiba di Pos 4. Di sana, kami memutuskan untuk beristirahat cukup lama. Menyeduh kopi dan membuka camilan yang kami bawa cukup berguna untuk mengisi kembali energi yang terkuras. Kami juga sempat mengobrol dengan beberapa pendaki dari berbagai daerah.
Setelah melanjutkan perjalanan santai melalui jalur yang lebih landai kurang dari satu jam, kami tiba di sebuah mata air bernama Sendang Drajat. Di sini saya sempat untuk mandi di gunung. Di dekat Sendang Drajat memang ada tempat bagi pendaki untuk membersihkan diri, dengan air yang langsung diambil dari sumber mata airnya. Setelah tubuh terasa segar, kami melanjutkan perjalanan menuju Hargo Dalem, lokasi warung tertinggi di Indonesia, Warung Mbok Yem.
Singgah di Warung Mbok Yem
Rasa lapar dan lelah membuat tubuh ingin segera tiba di warung. Pemandangan benar-benar indah saat kami hampir tiba, terlihat hamparan bukit di atas dan padang sabana di bawah jalur yang kami lewati. Akhirnya kami tiba di Warung Mbok Yem. Kami memesan dua porsi nasi pecel dengan telur ceplok, ditemani teh manis hangat sambil menikmati pemandangan. Rasanya begitu nikmat, sesuatu yang tidak bisa kita temukan di kota saat ini.
Pecel rice at Warung Mbok Yem Nasi pecel yang dipesaan saat tiba di Warung Mbok Yem
Kami sengaja tidak membawa tenda dari Bogor karena awalnya berencana menyewa tenda di basecamp Cemorosewu. Namun, sebelumnya penjaga basecamp mengatakan bahwa pendaki bisa bermalam di warung-warung dekat puncak Gunung Lawu. Akhirnya kami memutuskan untuk menginap satu malam di Warung Mbok Yem.
Summit Attack dan Sang Saka Merah Putih
Pagi tiba seiring matahari mulai muncul, garis kuning di ufuk timur terlihat jelas saat kami meninggalkan Warung Mbok Yem. Jarak dari warung ke puncak Gunung Lawu sebenarnya cukup dekat, hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan. Setelah menyiapkan beberapa logistik yang akan dibawa ke puncak, kami segera memulai perjalanan menuju puncak.
Matahari terbit dapat terlihat di depan Warung Mbok Yem
Sang Saka Merah Putih berkibar dengan gagah di atas tugu yang menandakan kami telah tiba di puncak Gunung Lawu. Saat itu, puncak sangat ramai dengan pendaki lain. Kami pun bergiliran mengabadikan foto di tugu penanda puncak Gunung Lawu. Setelah menikmati kopi yang kami seduh, kami memutuskan untuk turun kembali ke Warung Mbok Yem, lalu melanjutkan perjalanan turun dari Gunung Lawu untuk kembali ke rutinitas kuliah yang melelahkan di Kota Bogor.
Sampai di puncak Gunung Lawu
Gunung Lawu sangat populer di kalangan pendaki karena nuansa mistis dan statusnya sebagai tempat yang dianggap sakral di tanah Jawa. Setiap orang yang ingin mendaki Gunung Lawu harus memahami berbagai larangan tak tertulis, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Entahlah, bagi saya, setiap tempat yang kita kunjungi harus tetap dijaga dengan kesopanan, sikap, dan etika yang baik—sama seperti kita yang berperan sebagai tamu di rumah orang lain.
Komentar
Posting Komentar