Danau Kaco: Antara Kilau Berlian dan Misi Pencarian

Danau Kaco adalah sebuah danau yang terletak di Kabupaten Kerinci, Jambi, tepatnya di Desa Lempur, Kecamatan Gunung Raya. Danau Kaco dikenal dapat memancarkan cahaya terang di malam hari, terutama saat bulan purnama. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, cahaya yang terpancar dari dasar Danau Kaco berasal dari kilauan berlian yang tersimpan di dasar danau.

Air yang biru Danau Kaco seperti cahaya berlian

Berita yang Mengubah Rencana

Awalnya, kami mendengar kabar kurang baik yang terjadi di Danau Kaco—seorang pendaki dilaporkan hilang saat melakukan perjalanan di sana. "Ini kesempatan untuk SAR (Search and Rescue)," ucap hati saya saat itu. Karena saya memiliki latar belakang sebagai pegiat kegiatan luar ruang di kampus, ini menjadi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman dalam pelaksanaan SAR di kota orang. Saya dan Fajar akhirnya berangkat bersama. Perjalanan dimulai dari basecamp Mak Jus di kaki Gunung Kerinci menggunakan angkutan umum menuju Kota Sungai Penuh.

Sesampainya di Terminal Sungai Penuh, kami menyempatkan diri untuk menjalankan ibadah shalat Jumat terlebih dahulu karena waktu dzuhur sudah tiba. Setelah selesai, kami mencari bus umum yang menuju Desa Lempur, pintu masuk ke Danau Kaco. Sayangnya, bus terakhir sudah berangkat pukul 11.00 WIB dan kami terlambat. Rasa bingung mulai menghampiri pikiran. Akhirnya kami ditawari untuk naik ojek. Setelah proses tawar-menawar dan mencapai kesepakatan dengan biaya Rp75.000, kami diantar menuju pintu masuk Danau Kaco.

Perjalanan Menuju Lokasi

Perjalanan menuju Danau Kaco ternyata sangat jauh. Dibutuhkan waktu sekitar 90 menit menggunakan ojek untuk tiba di gerbang masuk Danau Kaco di Desa Lempur. Namun, pemandangan di sepanjang perjalanan benar-benar indah. Kami melewati perkebunan serta Danau Kerinci yang sangat mempesona dan luas.

Luasnya Danau Kerinci dapat terlihat selama perjalanan.

Sesampainya di pintu masuk hutan, sudah banyak warga dan beberapa personel yang turut mencari korban hilang, seperti BASARNAS (Badan Search and Rescue Nasional), tentara, dan kepolisian. Tak lama setelah itu, kami didekati seseorang dari KPA (Kelompok Pencinta Alam) Kerinci. "Bro, gabung sama kami aja," ajaknya, membawa kami ke pos masuk Danau Kaco. Di sana, kami bertemu teman-teman dari berbagai daerah yang sama-sama ingin membantu pencarian korban.

Tak lama kemudian, kami mendengar adanya kejadian mistis—beberapa warga di sana mengalami kerasukan. Karena kami tiba pada sore hari, kami diminta untuk beristirahat terlebih dahulu dan memulai pencarian keesokan harinya.

Menurut warga setempat, korban dinyatakan hilang saat sedang pulang dari Danau Kaco pada malam hari. Saat itu temannya berjalan di belakang, sementara korban tetap berjalan di depan karena sebelumnya terjadi pertengkaran di antara mereka. Korban dinyatakan hilang setelah temannya melaporkan kejadian tersebut ke petugas Pos Danau Kaco. Satu hari setelah kami tiba, keberadaan korban masih belum ditemukan.

Hari Pertama Pencarian

Pagi harinya, setelah sarapan yang disediakan oleh warga, kami segera bergerak memasuki hutan bersama teman-teman dari KPA Kerinci dan warga setempat. Kami harus menyusuri hutan lebat dan beberapa jalur yang berlumpur. Di beberapa titik, tenda-tenda posko komando sudah didirikan untuk para pencari yang bermalam sejak hari sebelumnya. Warga bergotong royong dalam kejadian ini—ada yang turut mencari korban, ada pula yang membantu menyediakan logistik makanan bagi para pencari.

Semua lapisan masyarakat turut membantu dalam pencarian

Sayangnya, hingga hari itu, kami dan beberapa warga setempat belum berhasil menemukan korban. Beberapa jalur yang sudah dibagi oleh tim pencari ditelusuri satu per satu. Kami harus menembus hutan lebat, bahkan memotong ranting pohon yang menghalangi jalan untuk memaksimalkan proses pencarian. Akhirnya, pencarian dilanjutkan keesokan harinya.

Hari Kedua: Menyusuri Hingga Danau Kaco

Pada hari kedua, kami menyusuri jalur hingga ke Danau Kaco. Memang, ada banyak jalan kecil yang bisa membuat pendaki tersesat jika tidak berhati-hati. Hanya sedikit orang—seperti mereka yang sudah pernah ke sana yang mengetahui arah pasti menuju danau. Setelah sekitar 3 jam berjalan menembus hutan, kami akhirnya tiba di Danau Kaco.

Sungguh indah, bagaikan kaca berlian tepat di hadapan mata. Airnya yang sangat jernih memungkinkan kita melihat hingga ke dasar, meski tidak benar-benar seperti kaca. Saat itu, Danau Kaco sangat ramai dikunjungi warga setempat maupun pengunjung lain. Tidak lama setelah mengambil beberapa foto, kami pun segera turun kembali dari Danau Kaco menuju area perkemahan.

Pemandangan di Danau Kaco

Hingga hari ketiga kami berada di sana, korban yang hilang di Danau Kaco masih belum ditemukan. Saya berpamitan dengan teman-teman yang telah menampung kami selama perjalanan ke Danau Kaco karena harus kembali ke Bogor.

Setelah kami tiba di Bogor, korban yang hilang di Danau Kaco masih belum ditemukan, dan hingga cerita ini dituliskan, belum ada kabar baik yang terdengar dari sana. Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang saya tahu, kita hanyalah sebutir debu kecil di alam semesta ini. Jangan pernah sekali pun rasa sombong muncul dalam diri kita, seolah-olah kita telah berhasil menaklukkan tempat yang kita pijak. Hukum alam berlaku di mana pun kita berada. Yang pasti, di mana pun kita berada, selalu berhati-hati dalam setiap tindakan dan jangan lupa selalu berdoa untuk keselamatan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seba Baduy

Dewi Anjani' Throne (Gunung Rinjani National Park)

Highest Peak on Bangka Island (Gunung Maras National Park)