Kawah Ijen: Mencari Biru di Balik Kabut Banyuwangi

Pernahkah kamu mendengar tentang fenomena api biru? Ya, blue fire di Kawah Ijen, Banyuwangi. Siapa yang tidak kenal destinasi wisata yang satu ini? Di seluruh dunia, hanya ada dua tempat dengan fenomena api biru, dan salah satunya ada di Indonesia—keren, bukan? Nah, di sini saya ingin menceritakan pengalaman saya saat berkunjung ke Kawah Ijen beberapa waktu lalu. Kawah Ijen berada di puncak Gunung Ijen. Yuk, langsung simak ceritanya!

Ijen Crater, Banyuwangi

Gunung Ijen adalah gunung berapi yang terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Gunung ini memiliki ketinggian 2.386 meter di atas permukaan laut (mdpl). Salah satu fenomena alam paling terkenal dari Gunung Ijen adalah api biru yang muncul di kawahnya pada waktu-waktu tertentu.

Dari Bali ke Banyuwangi

Perjalanan ini dimulai ketika saya tiba di Banyuwangi setelah sebelumnya berkunjung ke Bali. Saya sudah membuat janji terlebih dahulu dengan teman sekelas di kampus, Adit, untuk menginap beberapa hari di rumahnya.

Setibanya di Pelabuhan Gilimanuk, saya langsung dijemput oleh Adit dan dibawa ke rumahnya menggunakan motor. Pada 19 Agustus 2020, saya beristirahat terlebih dahulu satu malam karena keesokan harinya, dini hari, saya harus berangkat menuju Kawah Ijen. Sesampainya di rumah Adit, saya mulai merapikan dan memilah barang-barang yang akan saya bawa dalam perjalanan ini.

Menembus Malam Menuju Kawah Ijen

Pukul 02.00 dini hari, saya terbangun dan langsung bergegas bersama Adit menuju Kawah Ijen menggunakan motor. Udara sangat dingin, ditemani gerimis yang setia menemani perjalanan malam kami. Jalanan menuju Kawah Ijen sangat gelap—tidak ada penerangan sama sekali di sepanjang jalan raya ini, hanya lampu depan motor yang menemani perjalanan. Motor matic Adit bahkan harus didorong beberapa kali untuk bisa menaklukkan tanjakan-tanjakan yang cukup terjal.

Setelah beberapa lama, tepat pukul 05.00, kami tiba di pos registrasi Kawah Ijen. Sebelumnya, kami sudah memesan tiket secara online melalui situs resmi Kawah Ijen. Setelah membayar tiket, dengan tubuh menggigil kedinginan akibat perjalanan tadi, kami mulai berjalan perlahan menanjak.

Registration post at the entrance to the Ijen Crater area

Menyusuri Jalur Menuju Kawah

Sinar matahari mulai muncul dari peraduannya. Baru beberapa menit berjalan, Adit sudah merasa sangat kelelahan. Maklum, selama masa pandemi ini, kami sebagai mahasiswa juga harus berdiam di rumah dan tentu saja sangat jarang berolahraga. Saya menyuruh Adit untuk duduk sejenak dan minum air yang kami bawa, lalu kami kembali melanjutkan perjalanan perlahan-lahan melewati beberapa tanjakan yang cukup melelahkan.

Bisa dikatakan kami naik agak terlambat saat itu—beberapa orang sudah turun dari Kawah Ijen. Memang, kami sengaja hanya ingin melihat matahari terbit dan tidak berniat menyaksikan fenomena blue fire yang sudah terkenal itu.

At several points, there are shops selling souvenirs made from sulfur

Kami terus menyusuri jalur yang bergantian antara datar dan menanjak. Sesekali ojek motor yang digunakan para pengunjung untuk naik atau turun melintas di depan kami. Oh ya, di Kawah Ijen ada hal unik yang mungkin tidak bisa ditemukan di tempat lain—bagi pengunjung yang ingin naik ke kawah dengan lebih mudah, tersedia jasa ojek gerobak yang ditarik oleh porter setempat. Sebuah pemandangan yang benar-benar khas dan tak ternilai.

Cart taxi at Ijen Crater

Ketika Kabut Menjadi Teman

Kabut tebal menutup pandangan kami saat hampir mencapai bibir kawah. Rasa khawatir pun muncul—kami takut tidak bisa melihat warna biru air kawah yang terkenal itu. Ah, tidak apa-apa, yang penting sampai dulu di atas.

Resting post and bathroom on the hiking route

The Ijen Crater hiking route is covered in a thin mist

Tepat pukul 07.00 WIB, saya dan Adit tiba di puncak. Benar saja, pemandangan tertutup kabut tebal. Adit merasa bersalah karena tidak bisa memberikan kesan yang baik dari perjalanan ke Kawah Ijen ini. Saya hanya tertawa—tidak ada yang perlu disalahkan dalam hal ini. Kami menenangkan diri dengan menyeduh kopi yang kami bawa di ruang peristirahatan sambil menunggu kabut menghilang.

Benar saja, butuh waktu sekitar satu jam hingga kabut perlahan mulai menyingkir. Semangat kami langsung bangkit dan saya segera memberitahu Adit bahwa kawah sudah terlihat dengan jelas. Kami langsung mencari spot foto terbaik untuk mengabadikan pemandangan yang sudah lama kami nantikan ini.

Adit at the top of Ijen Crater

Beberapa penambang belerang terlihat memanggul muatan berat menuruni lereng. Beban yang mereka pikul pasti sangat berat. Lebih dari itu, nyawa menjadi taruhannya—risiko menghirup gas belerang yang keluar dari kawah sangatlah tinggi. Namun, demi menafkahi keluarga dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka tetap menjalani pekerjaan ini dengan penuh kegigihan. Sebuah pemandangan yang mengingatkan saya untuk selalu bersyukur.

Seller of sulfur souvenirs made directly on the spot

Sulfur miner

Tidak lama setelah itu, kami segera turun dari puncak Kawah Ijen. Akhirnya, rasa penasaran ini terpuaskan setelah bertahun-tahun ingin mengunjungi salah satu destinasi wisata kebanggaan Banyuwangi dan Bondowoso ini. Mungkin suatu hari nanti saya akan kembali ke sini untuk menyaksikan sendiri fenomena blue fire yang sudah terkenal hingga ke seluruh penjuru dunia.

Until we meet again, Ijen

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dewi Anjani' Throne (Gunung Rinjani National Park)

Seba Baduy

Gunung Maras: Puncak Tertinggi Bangka-Belitung