Kawah Ijen: Mencari Biru di Balik Kabut Banyuwangi
Pukul 02.00 dini hari, saya terbangun dan langsung bergegas bersama Adit menuju Kawah Ijen menggunakan motor. Udara sangat dingin, ditemani gerimis yang setia menemani perjalanan malam kami. Jalanan menuju Kawah Ijen sangat gelap—tidak ada penerangan sama sekali di sepanjang jalan raya ini, hanya lampu depan motor yang menemani perjalanan. Motor matic Adit bahkan harus didorong beberapa kali untuk bisa menaklukkan tanjakan-tanjakan yang cukup terjal.
Setelah beberapa lama, tepat pukul 05.00, kami tiba di pos registrasi Kawah Ijen. Sebelumnya, kami sudah memesan tiket secara online melalui situs resmi Kawah Ijen. Setelah membayar tiket, dengan tubuh menggigil kedinginan akibat perjalanan tadi, kami mulai berjalan perlahan menanjak.
Menyusuri Jalur Menuju Kawah
Sinar matahari mulai muncul dari peraduannya. Baru beberapa menit berjalan, Adit sudah merasa sangat kelelahan. Maklum, selama masa pandemi ini, kami sebagai mahasiswa juga harus berdiam di rumah dan tentu saja sangat jarang berolahraga. Saya menyuruh Adit untuk duduk sejenak dan minum air yang kami bawa, lalu kami kembali melanjutkan perjalanan perlahan-lahan melewati beberapa tanjakan yang cukup melelahkan.
Bisa dikatakan kami naik agak terlambat saat itu—beberapa orang sudah turun dari Kawah Ijen. Memang, kami sengaja hanya ingin melihat matahari terbit dan tidak berniat menyaksikan fenomena blue fire yang sudah terkenal itu.
Kami terus menyusuri jalur yang bergantian antara datar dan menanjak. Sesekali ojek motor yang digunakan para pengunjung untuk naik atau turun melintas di depan kami. Oh ya, di Kawah Ijen ada hal unik yang mungkin tidak bisa ditemukan di tempat lain—bagi pengunjung yang ingin naik ke kawah dengan lebih mudah, tersedia jasa ojek gerobak yang ditarik oleh porter setempat. Sebuah pemandangan yang benar-benar khas dan tak ternilai.
Ketika Kabut Menjadi Teman
Kabut tebal menutup pandangan kami saat hampir mencapai bibir kawah. Rasa khawatir pun muncul—kami takut tidak bisa melihat warna biru air kawah yang terkenal itu. Ah, tidak apa-apa, yang penting sampai dulu di atas.
Tepat pukul 07.00 WIB, saya dan Adit tiba di puncak. Benar saja, pemandangan tertutup kabut tebal. Adit merasa bersalah karena tidak bisa memberikan kesan yang baik dari perjalanan ke Kawah Ijen ini. Saya hanya tertawa—tidak ada yang perlu disalahkan dalam hal ini. Kami menenangkan diri dengan menyeduh kopi yang kami bawa di ruang peristirahatan sambil menunggu kabut menghilang.
Benar saja, butuh waktu sekitar satu jam hingga kabut perlahan mulai menyingkir. Semangat kami langsung bangkit dan saya segera memberitahu Adit bahwa kawah sudah terlihat dengan jelas. Kami langsung mencari spot foto terbaik untuk mengabadikan pemandangan yang sudah lama kami nantikan ini.
Beberapa penambang belerang terlihat memanggul muatan berat menuruni lereng. Beban yang mereka pikul pasti sangat berat. Lebih dari itu, nyawa menjadi taruhannya—risiko menghirup gas belerang yang keluar dari kawah sangatlah tinggi. Namun, demi menafkahi keluarga dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka tetap menjalani pekerjaan ini dengan penuh kegigihan. Sebuah pemandangan yang mengingatkan saya untuk selalu bersyukur.










Komentar
Posting Komentar