Gunung Abang: Saling Menghargai di Alam

Setelah mendaki Gunung Batur pada pagi hari tanggal 17 Agustus 2020, saya melanjutkan perjalanan langsung menuju gunung yang tepat berdiri di hadapan, yaitu Gunung Abang. Karena Bakta, tidak bisa ikut mendaki Gunung Abang akibat ada acara mendadak, saya terpaksa mendaki seorang diri. Inilah pengalaman pertama saya mendaki gunung sendirian tanpa bermalam.

Gunung Abang terletak di Desa Abangsongan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Gunung ini merupakan gunung tertinggi ketiga di Pulau Bali, setelah Gunung Agung dan Gunung Batukaru. Dengan ketinggian sekitar 2.152 meter di atas permukaan laut (mdpl), Gunung Abang merupakan titik tertinggi dari tanggul kaldera yang mengelilingi Gunung Batur.

Puncak Gunung Abang 2.152 mdpl

Berangkat Seorang Diri

Bakta mengantar saya ke gerbang pendakian Gunung Abang menggunakan motor selama kurang lebih satu jam dari gerbang pendakian Gunung Batur. Setelah tiba dan berpamitan, saya langsung menuju pos registrasi untuk membayar tiket retribusi pendakian Gunung Abang. Tepat pukul 10.30, saya memulai pendakian dari pos registrasi menuju puncak Gunung Abang pada hari yang sama.

Jalur yang Berbeda dari Gunung Batur

Jalur pendakian Gunung Abang sangat berbeda dari jalur Gunung Batur yang didominasi pasir berbatu dan minim vegetasi pohon. Jalur Gunung Abang justru didominasi oleh tanah menanjak yang dinaungi pepohonan lebat dan rindang. Saat saya memulai perjalanan menuju Pos 1, banyak pendaki yang sedang turun dari puncak—mereka rupanya sudah merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia di sana sejak pagi hari. Setelah berjalan menanjak selama 45 menit, bergantian naik dan turun bersama pendaki lain di jalur sempit, saya akhirnya tiba di Pos 1. Di sini terdapat bangunan pura dengan latar perbukitan yang tertutup kabut.

Candi di Pos 1

Menapaki Pos demi Pos

Setelah mengambil beberapa foto pemandangan menggunakan kamera ponsel, saya melanjutkan perjalanan menuju Pos 2. Danau Batur terlihat dari ketinggian, sesekali tertutup kabut yang bergerak perlahan seiring langkah ini mendaki. "Oh, begini rasanya mendaki gunung sendirian," gumam saya dalam hati saat duduk beristirahat sejenak. Rasa kesepian perlahan menyelimuti ketika kabut tebal dan gerimis dari embun mulai turun perlahan. Untungnya, masih banyak pendaki yang turun sehingga saya masih bisa menyapa mereka dan sedikit mengusir sepi. Saya memompa semangat dalam diri sendiri dan terus melangkah. Setelah mendaki tanpa henti selama sekitar 50 menit, saya tiba di Pos 2. Beberapa tenda masih berdiri di sana, peninggalan para pendaki yang bermalam sejak kemarin. Pura dan kabut tebal yang menyelimuti pepohonan menemani istirahat di Pos 2.

Danau Batur terlihat dari jalur pendakian Gunung Abang 

Kabut menyelimuti di Pos 2

Beberapa kali saya berhenti untuk beristirahat sejenak dalam perjalanan menuju puncak Gunung Abang. Memang, tenaga sudah banyak terkuras pagi tadi saat mendaki Gunung Batur. Langkah demi langkah saya paksakan dengan perlahan. Tepat pukul 13.00, saya akhirnya tiba di puncak Gunung Abang.

Masyarakat yang sedang berdoa di puncak gunung

Di puncak, saya menyaksikan bangunan pura yang cukup besar dengan umat Hindu yang sedang khusyuk bersembahyang. Sebuah pemandangan langka yang belum pernah saya temui di gunung-gunung yang sebelumnya saya daki. Segelas kopi sambil menikmati pemandangan dari atas sini terasa lebih dari cukup untuk mengusir rasa lelah yang menumpuk. Setelah mengambil beberapa foto, saya memutuskan untuk turun dari puncak Gunung Abang dan kembali ke rumah Bakta.

Penutup: Manusia, Alam, dan Perbedaan

Ada pesan tersendiri dari apa yang saya saksikan di Gunung Abang. Hal yang unik dan menarik adalah di setiap pos hingga puncak, bahkan di beberapa titik ketinggian lainnya, terdapat pura-pura tempat umat Hindu beribadah pada waktu-waktu tertentu. Ini mengingatkan saya bahwa kita sebagai manusia pada hakikatnya selalu hidup berdampingan dengan alam. Percayalah bahwa manusia dan alam diciptakan oleh Tuhan untuk saling menghormati dan merawat satu sama lain.

Negeri ini kaya akan keberagaman. Dan saya pun semakin memahami bahwa Indonesia mampu bersatu justru karena perbedaan-perbedaan yang dimilikinya. Terima kasih kepada kalian yang masih mencintai tanah air ini dengan cara apapun. Sampai jumpa di cerita selanjutnya!

Matur suksma (terima kasih)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seba Baduy

Dewi Anjani' Throne (Gunung Rinjani National Park)

Gunung Maras: Puncak Tertinggi Bangka-Belitung