Gunung Abang: Saling Menghargai di Alam
Setelah mendaki Gunung Batur pada pagi hari tanggal 17 Agustus 2020, saya melanjutkan perjalanan langsung menuju gunung yang tepat berdiri di hadapan, yaitu Gunung Abang. Karena Bakta, tidak bisa ikut mendaki Gunung Abang akibat ada acara mendadak, saya terpaksa mendaki seorang diri. Inilah pengalaman pertama saya mendaki gunung sendirian tanpa bermalam.
Gunung Abang terletak di Desa Abangsongan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Gunung ini merupakan gunung tertinggi ketiga di Pulau Bali, setelah Gunung Agung dan Gunung Batukaru. Dengan ketinggian sekitar 2.152 meter di atas permukaan laut (mdpl), Gunung Abang merupakan titik tertinggi dari tanggul kaldera yang mengelilingi Gunung Batur.
Beberapa kali saya berhenti untuk beristirahat sejenak dalam perjalanan menuju puncak Gunung Abang. Memang, tenaga sudah banyak terkuras pagi tadi saat mendaki Gunung Batur. Langkah demi langkah saya paksakan dengan perlahan. Tepat pukul 13.00, saya akhirnya tiba di puncak Gunung Abang.
Di puncak, saya menyaksikan bangunan pura yang cukup besar dengan umat Hindu yang sedang khusyuk bersembahyang. Sebuah pemandangan langka yang belum pernah saya temui di gunung-gunung yang sebelumnya saya daki. Segelas kopi sambil menikmati pemandangan dari atas sini terasa lebih dari cukup untuk mengusir rasa lelah yang menumpuk. Setelah mengambil beberapa foto, saya memutuskan untuk turun dari puncak Gunung Abang dan kembali ke rumah Bakta.
Penutup: Manusia, Alam, dan Perbedaan
Ada pesan tersendiri dari apa yang saya saksikan di Gunung Abang. Hal yang unik dan menarik adalah di setiap pos hingga puncak, bahkan di beberapa titik ketinggian lainnya, terdapat pura-pura tempat umat Hindu beribadah pada waktu-waktu tertentu. Ini mengingatkan saya bahwa kita sebagai manusia pada hakikatnya selalu hidup berdampingan dengan alam. Percayalah bahwa manusia dan alam diciptakan oleh Tuhan untuk saling menghormati dan merawat satu sama lain.
Negeri ini kaya akan keberagaman. Dan saya pun semakin memahami bahwa Indonesia mampu bersatu justru karena perbedaan-perbedaan yang dimilikinya. Terima kasih kepada kalian yang masih mencintai tanah air ini dengan cara apapun. Sampai jumpa di cerita selanjutnya!






Komentar
Posting Komentar