Mentutup Tahun di Titik Tertinggi Sumatera: Pendakian Gunung Kerinci
Ada beberapa pilihan jalur pendakian menuju puncak Gunung Kerinci, di antaranya Jalur Solok Selatan dan Jalur Kersik Tuo. Jalur yang kami pilih untuk pendakian ini adalah Jalur Kersik Tuo, Jambi—jalur yang banyak diminati para pendaki yang ingin menaklukkan Gunung Kerinci. Selain waktu tempuhnya lebih cepat dibanding jalur Solok Selatan, jalur ini juga menawarkan pemandangan indah yang diselingi jalan berlumpur dan terjal, cukup memacu adrenalin siapa pun yang melewatinya.
Pagi menyambut dengan cerah, kami akhirnya tiba di pos informasi dan registrasi R10 Taman Nasional Kerinci Seblat pukul 07.00 untuk mengurus izin masuk kawasan konservasi. Hal yang menarik, sebelum mendaki, setiap sampah yang dibawa pendaki, baik berupa kemasan plastik maupun lainnya, diperiksa dan dicatat satu per satu oleh petugas agar bisa dipertanggungjawabkan saat turun nanti.
Pada hari itu, 30 Desember 2019, pendakian sempat ditunda sementara hingga pukul 11.00 karena ada operasi pengangkutan sampah yang dilakukan oleh pihak Taman Nasional. Karena itu, setiap pendaki yang naik diwajibkan membawa kembali sampah turun, yang nantinya bisa ditukar dengan kopi khas Kerinci sebagai bentuk apresiasi. Masih dalam kondisi mabuk perjalanan, kami akhirnya memulai langkah menuju titik tertinggi sumatera.
Menyusuri Hutan Rimba Ekosistem Kerinci-Seblat
Perjalanan dimulai dari pos R10 menuju Pintu Rimba, gerbang awal pendakian dengan jarak sekitar 2 km dan waktu tempuh 45 menit. Medannya berupa perkebunan dan ladang warga, dengan kondisi jalan yang cukup baik (aspal) dan berbatu hingga batas hutan. Kemudian perjalanan berlanjut diiringi gerimis dari kabut serta jalan berlumpur menuju Pos 1. Jalurnya masih landai dan jaraknya tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu 35 menit dengan jarak 1,5 km untuk mencapai Pos 1. Sesampainya di sana, kami duduk sejenak, minum air, menyantap camilan yang kami bawa, sekaligus mengobrol dengan beberapa pendaki lain. Setelah tubuh terasa cukup tenaga, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Pos 2 dengan jalur yang sama dengan jarak tempuh 1 km memakan waktu 25 menit.
Cukup banyak pendaki yang naik saat itu karena bertepatan dengan musim liburan akhir tahun, mayoritas berasal dari berbagai daerah seperti Padang, Medan, dan Jambi, ditambah beberapa pendaki dari luar Sumatera seperti Garut, Jakarta, dan Yogyakarta. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Pos 3. Jalur kali ini cukup melelahkan karena medannya mulai menanjak terjal. Setelah 40 menit berjalan, kami akhirnya tiba di Pos 3 yang juga sudah ramai dengan pendaki yang sedang beristirahat.
Tak lama setelahnya, kami bergegas melanjutkan perjalanan ke Shelter 1, tempat kami berencana makan siang dan menyeduh kopi. Setelah menempuh jalur yang lebih sering menanjak selama kurang lebih 1 jam, kami tiba di Shelter 1 yang sudah dipenuhi tenda para pendaki. Rencananya, kami akan mendirikan tenda di Shelter 2 (Shelter Bayangan) karena selain dekat sumber air, pemandangan malamnya juga sangat indah.
Setelah perut terisi, kami segera melanjutkan perjalanan. Rasa lelah dan pegal mulai terasa karena medan yang sangat menanjak, ditambah beban di pundak yang semakin berat. Namun, diselingi candaan dan cerita-cerita lucu dari pendaki lain, rasa lelah itu perlahan menghilang dengan sendirinya. Sungguh, ini momen yang tidak bisa kita dapatkan di kota.
Tepat pukul 18.30, kami akhirnya tiba di Shelter Bayangan 2. Kami segera mendirikan tenda, memasang flysheet, dan menyiapkan alat masak untuk makan malam. Melihat pemandangan lampu kota dari kejauhan dan bintang-bintang di langit, sambil menikmati Kopi Liong yang kami bawa dari Bogor, rasanya benar-benar tak tertandingi. Kami tidak mengobrol terlalu lama dan segera tidur karena keesokan paginya kami harus melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Kerinci.
Menuju Puncak yang Penuh Tantangan
Sulit rasanya melawan rasa kantuk dan dinginnya udara yang menusuk tubuh, tetapi pemandangan indah di luar tenda menambah semangat kami untuk melanjutkan perjalanan. Pukul 02.30 dini hari, kami memulai summit attack dengan membawa cukup logistik makanan dan minuman ke puncak. Bahkan di beberapa jalur yang terjal, kami harus menggunakan tangan untuk membantu mendaki melewati tanjakan.
Saat tiba di Shelter 3 pukul 04.00 pagi, cuaca yang sebelumnya bersahabat mulai berubah. Hujan kabut dan abu vulkanik yang menyakitkan mata tiba-tiba turun, membuat kami harus berlindung di bawah flysheet pendaki lain di Shelter 3. Selama 2 jam, kami bersama sekitar 10 pendaki lainnya menahan dingin sambil menunggu hujan dan angin berhenti.
Matahari mulai muncul dari persembunyiannya, dan kami segera bergegas melanjutkan perjalanan. Namun kabut kembali menutupi jalur dan hujan turun lagi. Sayangnya, saya dan Fajar melakukan kesalahan besar—kami lupa membawa ponco yang tertinggal di tenda. Seluruh pakaian yang kami kenakan basah kuyup, dan kami terpaksa mencari perlindungan di balik bongkahan batu. Semangat kami akhirnya meredup setelah mendengar suara guntur, dan kami memutuskan untuk kembali ke tenda dan melanjutkan summit attack keesokan harinya.
Namun, setelah melewati Shelter 3, saya kembali bisa melihat puncak Gunung Kerinci yang sudah tidak lagi tertutup kabut. Saya bergumam di dalam hati, "Sudah sejauh ini, jangan menyerah." Setelah berdiskusi dengan Fajar, kami akhirnya memutuskan untuk kembali melanjutkan pendakian ke puncak. Hujan turun lagi, tetapi semangat kami justru semakin naik. Setibanya di Tugu Yuda, puncak Gunung Kerinci semakin terlihat jelas. Kami pun bertanya kepada beberapa pendaki yang sudah turun apakah puncak masih jauh. Kami melanjutkan perjalanan, selangkah demi selangkah.
Berdiri di Atap Sumatera
Pukul 09.00 WIB, pada ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut (mdpl), kami berdiri di Atap Sumatera, Gunung Kerinci. Perasaan campur aduk antara haru dan bangga karena telah berhasil sampai sejauh ini. Kabut yang menyelimuti kawah, ditambah lautan awan di sisi lainnya, menambah keindahan pemandangan ini. Kami tidak berlama-lama di puncak karena cuaca yang dingin, dan segera mengabadikan momen lewat foto. Setelah itu, kami turun dari puncak dalam keadaan basah dan menggigil.






Komentar
Posting Komentar