Mentutup Tahun di Titik Tertinggi Sumatera: Pendakian Gunung Kerinci

Untuk menutup hari di penghujung tahun 2019, Gunung Kerinci adalah jawaban yang tepat untuk perjalanan kali ini. Gunung Kerinci merupakan gunung tertinggi di Pulau Sumatera, gunung berapi tertinggi di Indonesia, dan puncak tertinggi di Indonesia di luar Papua. Gunung Kerinci terletak di Provinsi Jambi, berada di jajaran Pegunungan Bukit Barisan dekat pesisir barat, sekitar 130 km di sebelah selatan Padang, Provinsi Sumatera Barat. Puncaknya berada pada ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut, di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi—dari sini kita bisa melihat dari kejauhan pemandangan indah kota-kota seperti Jambi, Padang, dan Bengkulu. Gunung ini diselimuti hutan lebat yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat dan menjadi habitat harimau sumatera serta badak sumatera.

Pemandangan Gunung Kerinci yang diambil dari perkebunan teh Kersik Tuo

Ada beberapa pilihan jalur pendakian menuju puncak Gunung Kerinci, di antaranya Jalur Solok Selatan dan Jalur Kersik Tuo. Jalur yang kami pilih untuk pendakian ini adalah Jalur Kersik Tuo, Jambi—jalur yang banyak diminati para pendaki yang ingin menaklukkan Gunung Kerinci. Selain waktu tempuhnya lebih cepat dibanding jalur Solok Selatan, jalur ini juga menawarkan pemandangan indah yang diselingi jalan berlumpur dan terjal, cukup memacu adrenalin siapa pun yang melewatinya.

Awal Perjalanan

Perjalanan ini dimulai ketika rutinitas kuliah yang melelahkan membuat sebagian besar mahasiswa membutuhkan suasana yang bisa menenangkan jiwa sementara. Bertepatan dengan libur yang cukup panjang, saya bersama Fajar, seseorang kawan perjalanan, memanfaatkan kesempatan untuk mengunjungi salah satu Seven Summits Indonesia di Pulau Sumatera, yaitu Gunung Kerinci. Tepat pada 28 Desember 2019, kami berangkat dari Kota Bogor menggunakan bus armada ALS (Antar Lintas Sumatra) menuju Kota Bangko, Jambi. Sebenarnya kami bisa saja naik pesawat menuju Padang atau Jambi, tetapi kami memilih bus karena ingin lebih menikmati perjalanan sekaligus menghemat pengeluaran yang ada.

Sesampainya di Kota Bangko, kami langsung disambut oleh Sidik, yang sebelumnya sudah sepakat untuk mendaki bersama setelah berkenalan lewat aplikasi Instagram. Ia berangkat sendirian dari Tangerang, dan kebetulan jadwal pendakiannya ke Kerinci bersamaan dengan kami.

Tiba di Bangko malam hari, mencari kendaraan menuju basecamp pendakian cukup sulit. Beberapa kali kami ditawari travel dengan harga yang cukup mahal. Pukul 01.30 dini hari, kami akhirnya dijemput oleh kenalan travel Jambi milik Sidik. Perjalanan membawa kami bertiga melewati jalan berliku di tengah malam yang gelap. Selain kami bertiga dan sopir, mobil travel ini juga membawa beberapa penumpang lain yang ingin menuju kota yang sama, sehingga kami harus duduk berdesakan. Karena kondisi jalan yang kurang bersahabat, beberapa penumpang bahkan harus mengeluarkan isi perutnya karena tidak tahan dengan rasa mual.

Mengurus Izin Pendakian di Pos R10

Pagi menyambut dengan cerah, kami akhirnya tiba di pos informasi dan registrasi R10 Taman Nasional Kerinci Seblat pukul 07.00 untuk mengurus izin masuk kawasan konservasi. Hal yang menarik, sebelum mendaki, setiap sampah yang dibawa pendaki, baik berupa kemasan plastik maupun lainnya, diperiksa dan dicatat satu per satu oleh petugas agar bisa dipertanggungjawabkan saat turun nanti.

Pada hari itu, 30 Desember 2019, pendakian sempat ditunda sementara hingga pukul 11.00 karena ada operasi pengangkutan sampah yang dilakukan oleh pihak Taman Nasional. Karena itu, setiap pendaki yang naik diwajibkan membawa kembali sampah turun, yang nantinya bisa ditukar dengan kopi khas Kerinci sebagai bentuk apresiasi. Masih dalam kondisi mabuk perjalanan, kami akhirnya memulai langkah menuju titik tertinggi sumatera.

Foto bersama sebelum memulai pendakian bersama para pendaki dari berbagai asal wilayah

Menyusuri Hutan Rimba Ekosistem Kerinci-Seblat

Perjalanan dimulai dari pos R10 menuju Pintu Rimba, gerbang awal pendakian dengan jarak sekitar 2 km dan waktu tempuh 45 menit. Medannya berupa perkebunan dan ladang warga, dengan kondisi jalan yang cukup baik (aspal) dan berbatu hingga batas hutan. Kemudian perjalanan berlanjut diiringi gerimis dari kabut serta jalan berlumpur menuju Pos 1. Jalurnya masih landai dan jaraknya tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu 35 menit dengan jarak 1,5 km untuk mencapai Pos 1. Sesampainya di sana, kami duduk sejenak, minum air, menyantap camilan yang kami bawa, sekaligus mengobrol dengan beberapa pendaki lain. Setelah tubuh terasa cukup tenaga, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Pos 2 dengan jalur yang sama dengan jarak tempuh 1 km memakan waktu 25 menit.

Cukup banyak pendaki yang naik saat itu karena bertepatan dengan musim liburan akhir tahun, mayoritas berasal dari berbagai daerah seperti Padang, Medan, dan Jambi, ditambah beberapa pendaki dari luar Sumatera seperti Garut, Jakarta, dan Yogyakarta. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Pos 3. Jalur kali ini cukup melelahkan karena medannya mulai menanjak terjal. Setelah 40 menit berjalan, kami akhirnya tiba di Pos 3 yang juga sudah ramai dengan pendaki yang sedang beristirahat.

Tak lama setelahnya, kami bergegas melanjutkan perjalanan ke Shelter 1, tempat kami berencana makan siang dan menyeduh kopi. Setelah menempuh jalur yang lebih sering menanjak selama kurang lebih 1 jam, kami tiba di Shelter 1 yang sudah dipenuhi tenda para pendaki. Rencananya, kami akan mendirikan tenda di Shelter 2 (Shelter Bayangan) karena selain dekat sumber air, pemandangan malamnya juga sangat indah.

Shelter 1 dipenuhi tenda para pendaki yang menginap

Setelah perut terisi, kami segera melanjutkan perjalanan. Rasa lelah dan pegal mulai terasa karena medan yang sangat menanjak, ditambah beban di pundak yang semakin berat. Namun, diselingi candaan dan cerita-cerita lucu dari pendaki lain, rasa lelah itu perlahan menghilang dengan sendirinya. Sungguh, ini momen yang tidak bisa kita dapatkan di kota.

Tepat pukul 18.30, kami akhirnya tiba di Shelter Bayangan 2. Kami segera mendirikan tenda, memasang flysheet, dan menyiapkan alat masak untuk makan malam. Melihat pemandangan lampu kota dari kejauhan dan bintang-bintang di langit, sambil menikmati Kopi Liong yang kami bawa dari Bogor, rasanya benar-benar tak tertandingi. Kami tidak mengobrol terlalu lama dan segera tidur karena keesokan paginya kami harus melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Kerinci.

Menuju Puncak yang Penuh Tantangan

Sulit rasanya melawan rasa kantuk dan dinginnya udara yang menusuk tubuh, tetapi pemandangan indah di luar tenda menambah semangat kami untuk melanjutkan perjalanan. Pukul 02.30 dini hari, kami memulai summit attack dengan membawa cukup logistik makanan dan minuman ke puncak. Bahkan di beberapa jalur yang terjal, kami harus menggunakan tangan untuk membantu mendaki melewati tanjakan.

Saat tiba di Shelter 3 pukul 04.00 pagi, cuaca yang sebelumnya bersahabat mulai berubah. Hujan kabut dan abu vulkanik yang menyakitkan mata tiba-tiba turun, membuat kami harus berlindung di bawah flysheet pendaki lain di Shelter 3. Selama 2 jam, kami bersama sekitar 10 pendaki lainnya menahan dingin sambil menunggu hujan dan angin berhenti.

Matahari mulai muncul dari persembunyiannya, dan kami segera bergegas melanjutkan perjalanan. Namun kabut kembali menutupi jalur dan hujan turun lagi. Sayangnya, saya dan Fajar melakukan kesalahan besar—kami lupa membawa ponco yang tertinggal di tenda. Seluruh pakaian yang kami kenakan basah kuyup, dan kami terpaksa mencari perlindungan di balik bongkahan batu. Semangat kami akhirnya meredup setelah mendengar suara guntur, dan kami memutuskan untuk kembali ke tenda dan melanjutkan summit attack keesokan harinya.

Puncak Gunung Kerinci yang dapat dilihat dari Tugu Yuda

Namun, setelah melewati Shelter 3, saya kembali bisa melihat puncak Gunung Kerinci yang sudah tidak lagi tertutup kabut. Saya bergumam di dalam hati, "Sudah sejauh ini, jangan menyerah." Setelah berdiskusi dengan Fajar, kami akhirnya memutuskan untuk kembali melanjutkan pendakian ke puncak. Hujan turun lagi, tetapi semangat kami justru semakin naik. Setibanya di Tugu Yuda, puncak Gunung Kerinci semakin terlihat jelas. Kami pun bertanya kepada beberapa pendaki yang sudah turun apakah puncak masih jauh. Kami melanjutkan perjalanan, selangkah demi selangkah.

Berdiri di Atap Sumatera

Pukul 09.00 WIB, pada ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut (mdpl), kami berdiri di Atap Sumatera, Gunung Kerinci. Perasaan campur aduk antara haru dan bangga karena telah berhasil sampai sejauh ini. Kabut yang menyelimuti kawah, ditambah lautan awan di sisi lainnya, menambah keindahan pemandangan ini. Kami tidak berlama-lama di puncak karena cuaca yang dingin, dan segera mengabadikan momen lewat foto. Setelah itu, kami turun dari puncak dalam keadaan basah dan menggigil.

Puncak Gunung Kerici yang sedikit tertutup kabut

Ketika turun dari puncak, saya berpikir, "Kenapa sih harus naik gunung? Capek, buang-buang uang, lebih baik di rumah saja yang nyaman." Namun, seiring berjalannya waktu, perasaan ini tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata. Keinginan yang selalu membuat diri ingin kembali mendaki sepertinya bukan sekadar hobi, melainkan kebutuhan manusiawi yang membuat kita semakin bersyukur atas karunia Tuhan yang telah menciptakan alam semesta ini.

Terima kasih Kerinci. Semoga segera kembali, nanti

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seba Baduy

Dewi Anjani' Throne (Gunung Rinjani National Park)

Highest Peak on Bangka Island (Gunung Maras National Park)