Gunung Merbabu adalah gunung berapi bertipe strato yang secara administratif berada di Kabupaten Magelang pada sisi lereng barat, Kabupaten Boyolali pada lereng timur dan selatan, serta Kabupaten Semarang pada lereng utara, Provinsi Jawa Tengah. Dengan puncak tertinggi mencapai 3.145 meter di atas permukaan laut (mdpl), Gunung Merbabu cukup populer sebagai destinasi pendakian.
Gunung Merapi terlihat jelas dari puncak Gunung Merbabu
Ada beberapa jalur pendakian menuju puncak Gunung Merbabu, di antaranya Tekelan, Wekas, Cuntel, Selo, dan Suwanting. Jalur Selo adalah jalur yang kami pilih untuk mendaki, karena rutenya lebih mudah, pemandangannya indah, dan hamparan sabana yang luas membuat perjalanan semakin menyenangkan. Selain itu, dari jalur ini, Gunung Merapi yang bertetangga dekat dengan Merbabu bisa terlihat dengan jelas. Namun, di jalur Selo tidak ada sumber mata air sepanjang perjalanan, sehingga kami harus berhemat dengan persediaan air yang dibawa selama pendakian.
Berangkat menuju Basecamp Selo
Perjalanan dimulai dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta, dilanjutkan dengan menyewa mobil travel pada malam hari menuju basecamp Selo, Boyolali. Kami tiba di basecamp Selo tengah malam dengan lelah akibat perjalanan jauh dengan berbagai kendaraan. Setelah makan malam, kami merapikan logistik pendakian yang akan dibawa untuk memulai pendakian Gunung Merbabu keesokan paginya. Setelah semuanya siap, kami langsung tertidur dan bangun saat pagi untuk mengisi perut dengan sarapan nasi goreng sebelum memulai pendakian.
Gerbang selamat datang pendakian jalur selo
Menyusuri Pos Demi Pos
Di awal pendakian, para pendaki akan disambut oleh gerbang selamat datang dari Taman Nasional Gunung Merbabu. Jalur pendakian menuju Pos 1 (Dok Malang) cukup ramah, melewati hutan pinus dan lamtoro di kanan dan kiri jalan. Udara sejuk pagi hari menemani perjalanan saya bersama teman-teman. Puncak Gunung Merapi sudah dapat terlihat dari kejauhan sepanjang perjalanan. Tanpa disadari, setelah berjalan santai selama 90 menit dengan jarak 2 km, kami tiba di Pos 1 (Dok Malang) yang dikelilingi pepohonan lebat.
Saat memulai perjalan, puncak Gunung Merapi dapat terlihat dari kejauhan Sampai di Pos 1 Dok Malang
Setelah membasahi tenggorokan dengan air minum, kami melanjutkan perjalanan ke Pos 2. Dalam perjalanan, kami beberapa kali menjumpai tanjakan yang cukup terjal. Kami melewati pos bayangan (Simpang Macan) setelah berjalan 90 menit, lalu harus berjalan lagi sekitar 15 menit hingga tiba di Pos 2 (Pandean).
Pos 2 Pandean cocok untuk menjadi tempat mendirikan tenda
Perjalanan berlanjut menuju Pos 3 (Watu Tulis) selama kurang lebih 45 menit dengan estimasi jarak 1,5 km. Pemandangan di sini sangat indah—pohon edelweiss yang lebat di beberapa titik menambah keindahan tempat ini. Kami beristirahat cukup lama sambil sesekali mengambil foto pemandangan yang sering tertutup kabut tiba-tiba. Setelah semua siap, kami melanjutkan pendakian menuju Pos 4 (Sabana 1), tempat kami akan mendirikan tenda.
Pemandangan cantik dapat dilihat di Pos 3 Watu Tulis
Hujan dan Sabana 1
Kami langsung dihadapkan dengan tanjakan terjal setelah meninggalkan Pos 3 (Watu Tulis), yang cukup menguras tenaga. Beberapa dari kami harus berhenti sejenak untuk minum, demi meringankan beban tas yang penuh berisi persediaan air. Hujan deras menyambut kami saat tiba di Pos 4 (Sabana 1). Kami segera memasang flysheet untuk menunggu hujan reda. Setelah hujan berhenti, kami bergegas mencari tempat yang cukup terlindung untuk mendirikan tenda.
Memang, Sabana 1 menjadi tempat berkemah yang menarik karena pemandangannya indah, meski angin malam terkadang cukup kencang. Kami segera berganti pakaian yang basah setelah tenda berdiri. Malam itu, kami memasak dan bercanda satu sama lain selama pendakian. Rasa kantuk yang menggantung di mata kembali membuat kami tertidur. Bayangan matahari terbit di puncak membuat kami tidak sabar untuk segera bangun keesokan harinya.
Kabut yang menutupi pemandangan saat kami tiba di Sabana 1
Menuju Puncak Kenteng SongoSaat langit masih gelap, kami meninggalkan tenda untuk melanjutkan perjalanan menuju Puncak Merbabu. Tidak jauh dari Pos 4 (Sabana 1), dalam waktu sekitar 30 menit kami tiba di Pos 5 (Sabana 2)—tempat ini juga bisa digunakan untuk mendirikan tenda. Cahaya senter kepala headlamp para pendaki menerangi jalur menuju puncak. Sinar matahari dari timur mulai muncul menemani perjalanan kami. Kemegahan Gunung Merapi yang berdiri tegak di seberang sana semakin menambah semangat kami untuk segera mencapai puncak.
Dengan napas tersengal, kami akhirnya tiba di Puncak Kenteng Songo. Sungguh, Merbabu benar-benar membuat kami terpana. Dari Puncak Kenteng Songo, Gunung Merapi terlihat sangat dekat. Di sisi barat, terlihat jelas dan indah Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, dan Pegunungan Prau. Sementara di kejauhan sisi timur, tampak Gunung Lawu dengan puncaknya yang memanjang.
Melihat matahari terbit di puncak Kenteng Songo
Berjalan sedikit lagi, kami tiba di Puncak Trianggulasi. Gunung Merbabu memang memiliki tiga puncak utama, yaitu Puncak Kenteng Songo, Puncak Trianggulasi, dan Puncak Syarif. Namun, kami tidak melanjutkan ke Puncak Syarif karena jaraknya cukup jauh dan akan memakan banyak waktu. Setelah berfoto-foto dan mengisi perut dengan camilan yang kami bawa, kami bergegas turun kembali ke Sabana 1.
Foto bersama dengan tim pendakian di Puncak Trianggulasi
Turun Sambil Menikmati Sabana
Kami sengaja turun dengan santai sambil menikmati pemandangan. Sabana 2 yang kami lewati membuat kami ingin berlama-lama di sana. Padang rumput hijau yang membentang luas, dihiasi "Bunga Abadi" Edelweiss, menemani perjalanan turun ini. Setibanya di Sabana 1, kami segera merapikan logistik pendakian untuk dibawa turun setelah sarapan. Kami tiba dengan selamat di basecamp Selo pada sore harinya.
Berjalan perlahan di pemandangan yang indah Sabana 2
Sungguh, Merbabu membuat saya semakin yakin bahwa diri ini begitu kecil dibandingkan ciptaan Tuhan yang begitu luas dan indah. Sebuah karunia yang membuat manusia semakin bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya. Semoga setiap langkah yang saya jalani di setiap sudut negeri ini memberikan pelajaran berharga untuk saya menjalani hidup yang lebih baik. Semoga.
Komentar
Posting Komentar